Kamis, 05 Januari 2012

Masalah Lingkungan Akibat Pembangunan Kawasan UNDIP

Diposkan oleh Power of Environtment di 06.51
Kelurahan Tembalang adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Tembalang yang bercorak perkotaan dengan aktivitas utamanya adalah pendidikan. Kelurahan Tembalang memiliki karakteristik topografi 15-40% yang berarti kelurahan ini merupakan dataran tinggi. Dengan karakteristik tersebut, kelurahan ini memiliki kesulitan teknis dan daya dukung untuk area terbangun, dan menjadi kawasan konservasi karena kelerengannya yang curam. Kelurahan Tembalang memiliki berpotensi sebagai kawasan pendidikan yang mampu menjadi katalisator kawasan..
Keberadaan Kampus Universitas diponegoro yang berada di daerah Tembalang, seakan mampu menjadi tarikan/bangkitan yang tak terelakkan dalam waktu sekejap. Dari yang dulu merupakan hutan belantara, ibarat orang diberi tanahnya saja tidak mau, namun sekarang, justru banyak masyarakat yang berebut lahan di daerah tersebut, sekalipun dengan harga mahal ± 2.000.000/m2. Pembangunan kampus UNDIP membawa dampak yang besar terhadap ativitas dan kehidupan masyarakat wilayah sekitarnya. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan antara corak masyarakat kampung, dimana bangunan rumahnya masih terbuat dari papan kayu dan ‘gedheg’  dengan masyarakat kota yang berebut lahan untuk mendirikan bangunan kos-kosan dengan gaya modern dan minimalis. Daya pikat Kampus UNDIP memliki kekuatan magnet yang kuat untuk menarik pembangunan besar-besaran.
Pembangunan yang berlangsung secara sporadis dan seringkali kurang memperhatikan aspek lingkungan di Kawasan UNDIP, membawa dampak buruk terhadap lingungan yang akhirnya terjadi setiap tahunnya. Trend peningkatan jumlah penduduk tiap tahun ditambah dengan meningkatnya jumlah mahasiswa UNDIP (direncanakan mulai tahun ajaran 2010/2011, UNDIP Plebuaran akan berativitas di Tembalang), menjadi pengaruh utama dalam perkembangan kawasan kampus dan sekitarnya. Ruang-ruang yang dibangun di sekitar kawasan UNDIP slah satunya berfungsi untuk menunjang aktivitas pendidikan yang berlangsung. Dari hal tersebut, kecenderungan yang terjadi adalah menipisnya proporsi ruang terbuka sebagai dampak meningkatnya jumlah ruang terbangun. Dengan meningkatnya pembangunan, maka secara otomatis sebagian besar vegetasi yang berfungsi sebagai daerah resapan air juga akan tertutup oleh tanaman ‘semen’. Tidak berhenti sampai hilangnya resapan air saja, tetapi kenaikan suhu iklim mikro yang menyebabkan para pejalan kakimenjadi tidak dapa menikmati pedestrian ways, yang akhirnya pedestrian ini justru digunakan para PKL untuk berdagang. Sementara itu, para pejalan kaki akan beralih pada penggunaan kendaran bermotor untuk berpergian walaupun dalam jarak terdekat. Dari permasalahan-permasalahan di atas, berujung pada suatu fenomena yang biasa kita sebut dengan “global warming”.
Global warming adalah fenomena perubahan iklim yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu rata-rata global yang disebabkan oleh peningkatan emisi karbon. Di Kawasan UNDIP, terlihat jelas permasalahan tersebut, dimulai dari aspek lingkungan dan social, dimana letak pembangunan rumah yang tidak teratur, sehingga lingkungan hunian menjadi padat dan tidak memperhatikan apakah ruang terbuka hijau yang tersedia sudah mencukupi atau belum. Jika dilihat dari aspek ekonomi, tergambarkan bahwa telah terjadi perubahan fungsi perumahan sebagai rumah sewa (kos) dalam bentuk bangunan yang berbeda dengan bentuk rumah secara umum. Artinya, semakin banyak pula kebutuhan air bersih, sanitasi, drainase, dan penyediaan infrastruktur lainnya. Apabila kebutuhan akan sarana prasarana tersebut tidak dapat terpenuhi, maka akan berdampak pada rendahnya kulaitas hidup masyarakat dan degradasi lingkungan terutam apada kawasan permukiman sekitar.
Untuk menghindari berkembangnya hal ini, diperlukan tindakan preventif yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan sehingga orientasi pembangunan pun menekankan pada pentingnya perencanaan baik secara desain maupun teknis yang mengedepankan penggunaan energi alam serta teknologi ramah lingkungan demi mengurangi emisi gas ke atmosfer agar terciptanya lingkungan yang berkelanjutan dengan tetap memperhitungkan ketersediaan sumberdaya, termasuk dari kelayakan dari segi finansial.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Power of Environment Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review